Mengapa
Buku Mukijizat Al Quran dan Hadist selalu best seller dan ingin
dimiliki setiap keluarga muslim di Indonesia ?
Saya berikan
penjelasannya berikut ini :
Spesifikasi :
Terdiri dari 10 jilid hard cover, berisi sekitar 3000 halaman,
dilengkapi dengan lebih dari 2.500 gambar dan ilustrasi berwarna, kertas matt paper 120 gram,
kemasan eksklusif.
Telah terdaftar di Dep.Hukum dan HAM RI Nomor D.002008019968 Tanggal, 03 Juni 2008.
Judul buku asli : Al I’jaz Al Ilmi fi Alquran wa Al Sunnah :
Penulis : Prof. Dr. Musthafa Abdul Mun’im, Prof. Dr. Abd Al-Basith Muhammad Sayyid, Prof. Dr. Beikheir Hammouti, Ir. Abdu Daim Kaheel, Harun Yahya, Dr. dr. Muhammad Nizar Al-Daqr, Dr.
dr. Mahmud Nazhim Al-Nasimi, Prof. Dr. Musthafa Ibrahim Hasan, Prof.
Dr. Mudhail Bakar, dkk.
Di Indonesia diterbitkan oleh PT. Sapta Sentosa :
Judul : ENSIKLOPEDIA MUKJIZAT ALQURAN DAN HADIS (MAQDIS)
Penterjemah : Moch. Syarif Hidayatullah, Achmad Atho’illah, Mahfud Hidayat Lukman, Ahmad Muzayin,
Luthfi Arif Alamsyah, dkk.
Penyunting : Syarif Hade Masyah.
Pembaca Ahli : Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, Dr. Mukhlis Hanafi
Kata Pengantar : Prof. Dr. Moh. Ali, MA (Dirjen Pendidikan Islam Depag RI), Drs. H.M. Ichwan Sam (Sekum MUI Pusat), KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU), Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)
Pengantar dari Prof. Dr. Mohammad Ali, M.A.
Alquran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw yang sejak dari
masa turunnya sudah mendapatkan banyak tantangan, terutama dari
orang-orang yang memang menentang kerasulan Muhammad Saw. Mereka
menganggap Alquran sebagai syair karangan Muhammad dan bukan berasal
dari Allah. Menanggapi hal itu, Allah menyatakan dengan tegas bahwa
Alquran bukanlah perkataan penyair (QS Al-Haqqah [69]: 41).
Selain itu, Allah juga menantang orang-orang yang senantiasa meragukan
kebenaran Alquran, baik dari kalangan jin dan manusia untuk membuat
walaupun satu ayat sebagaimana yang termaktub dalam Alquran. Sekali lagi
Allah menegaskan bahwa mereka tidak akan mampu membuatnya meskipun mereka saling bekerjasama (QS AlIsra’ [17]: 88).
Diantara kemukjizatan Alquran adalah ketinggian nilai bahasanya,
sehingga diperlukan penafsiran guna dapat memahaminya. Untuk itu, para
mufassir dari masa ke masa berusaha menghadirkan penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran dengan metode tertentu dan telah menghasilkan banyak karya tafsir. Namun demikian, bukan berarti seluruh sisi kebenaran Alquran sudah tertafsirkan semuanya, sehingga masih tetap dibutuhkan
keahlian dari para mufassir yang datang kemudian untuk melakukan
penafsiran lagi. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa Alquran laksana
berlian, dari sudut manapun orang memandang akan menampakkan keindahan.
Begitu juga dengan para mufassir, mereka dengan kemampuannya melakukan
penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran dengan metodenya masing-masing.
Namun jika ada orang lain yang mau menafsirkan Alquran, akan tetap bisa
melihat Alquran dengan sudut pandang yang baru dan berbeda dengan yang
pernah ada sebelumnya. Apalagi jika penafsiran tersebut dikaitkan dengan
ilmu pengetahuan, yang senantiasa terus berkembang, sehingga akan
semakin dapat membuktikan bahwa Alquran benar-benar kitab yang diturunkan dari Allah Swt.
Salah satu bentuk penemuan menarik yang diungkap dalam Ensiklopedia ini
adalah kemukjizatan angka, khususnya angka tujuh yang memiliki banyak
sekali petunjuk, baik dalam Alquran dan Hadis maupun di alam. Bahkan
pengulangan angka tujuh ini dalam Alquran memunculkan sebuah sistem yang
koheren, eksak, dan sulit terbantahkan.
Dalam surah Nuh [71]
ayat 15 Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah
menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?”
Demikian pula
dalam salah satu hadis yang disabdakan oleh Rasullullah Saw tentang
dosa-dosa besar, beliau membatasinya dengan tujuh macam: “Jauhilah tujuh
dosa
besar” [HR Bukhari-Muslim].
Demikian pula halnya
fenomena alam juga memunculkan angka tujuh, yang dijadikan jumlah
tingkatan langit dan bumi, sebagaimana firman Allah dalam surah
Al-Thalaq [65] ayat 12: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi”.
Kajian dan penafsiran Alquran dengan
pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan (tafsiir bil ‘ilmi) seperti inilah
yang belakangan banyak dilakukan oleh para ilmuwan muslim.
Pengungkapan kebenaran Alquran seperti ini diharapkan dapat menembus batas keimanan. Artinya kebenaran konsep-konsep yang ada dalam Alquran
tidak hanya dapat dicerna dan diterima oleh orang-orang yang beragama
Islam saja, tetapi juga oleh orang lain yang mampu berpikir secara
rasional dan mampu melihat kebenaran secara obyektif tanpa tersekat oleh keyakinan yang dianutnya.
Salah satu usaha cerdas dan brilian yang menghadirkan penafsiran
Alquran dengan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan adalah Ensiklopedia
Mukjizat Alquran dan Hadis yang saat ini ada di tangan pembaca.
Ensiklopedia ini disusun dalam multi perspektif keilmuan, sehingga semakin menarik bagi pembaca dari latar belakang kelimuan apa pun.
Khusus bagi dunia pendidikan, pentingnya ensiklopedia ini didasarkan pada beberapa kebutuhan :
(1) Kebutuhan menyediakan sumber bahan yang bermutu,
(2) Kebutuhan menawarkan pandangan keagamaan yang cocok untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan,
(3) Kebutuhan mengembangkan kajian Alquran yang multidisipliner.
Buku seperti ini dapat memicu peningkatan mutu pendidikan yang lebih
utuh dan menyeluruh. Karena itu, sudah selayaknya kalau kehadiran
Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis ini mendapatkan sambutan dan
apresiasi yang tinggi dari umat Islam di Indonesia serta dapat digunakan
sebagai bahan referensi oleh lembaga pendidikan, baik sekolah umum dan
sekolah khusus yang berbasiskan agama Islam maupun pondok pesantren.
Semoga kehadiran Ensiklopedia akan menambah dan memperkuat keyakinan
kita bahwa Alquran memang benar diturunkan dari sisi Allah Swt yang
cocok untuk menjadi pedoman dan tuntunan hidup bagi manusia dimana pun dan sampai kapanpun (shaalihun likulli zamaan wa makaan).
Prof. Dr. Mohammad Ali, M.A